Contoh Cerita Objek Wisata Lombok Barat

 AIR TERJUN TIMPONAN

“ Nge-trip yuk, Mbak! Mumpung libur panjang. Lombok kan punya banyak objek wisata yang bisa dikunjungi” ajakan Trisna sambil berjalan dari kamarnya menghampiriku. Aku sibuk mendengarkan celotehnya sambil menggoreng beberapa buah kentang untuk dijadikan camilan. Aku adalah sulung dari 5 bersaudara. Trisna menempati urutan ke-3 dari kami berlima. Usianya lumayan jauh berbeda dariku. Terpaut jarak 8 tahun dengan usiaku yang sekarang yaitu 27 tahun. Walaupun lumayan jauh, kami selalu kompak dalam hal apapun. Terutama Travelling.  Perkenanlkan, namaku Meike. Namaku sudah terukir di rapot kelas 3 Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng semenjak 7 tahun yang lalu. Sekolah ini berada di desa Dasan Tereng, sekitar 2 km ke arah barat dari pusat kota air, Narmada, Lombok Barat, Nusa Tengga Barat ( NTB ).

***

“ Iya, mbak ngerti dek. Tapi kan tau sendiri, sekarang ini pemerintah sedang membatasi yang namanya berkerumunan. Nah, kalo kita mengunjungi tempat wisata, tentunya bukan kita saja yang ada disana. Tapi sekumpulan orang dari berbagai tempat. Kita harus mentatati protokol pemerintah, dek. Ini semua demi kita, keluarga, masyarakat Lombok, NTB, bahkan seluruh pelosok daerah yang ada di Indonesia.”

***

Memang. Semenjak pandemic Corona Virus Disease ( Covid-19 ) atau yang dikenal dengan sebutan Virus Corona menyerang negara tercinta kita Indonesia, segala peraturan mulai diberlakukan. Terutama 3M ( Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak ). Selain 3M, aturan lainnya ialah menghindari kerumunan ( Social Distancing ), karenanya aturan yang satu ini berdampak pada objek wisata di segala tempat. Terutama di daerah asalku, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ( NTB )

Pulau yang berdampingan dengan Pulau Dewata ini sangat digemari oleh wisatawan dari berbagai tempat. Baik dari Lokal, Nasional, maupun Internasional. Meskipun pulau ini tampak begitu kecil jika dilihat melalui peta ataupun miniatur dunia ( Globe ), tetapi kekayaan alam yang dimilikinya begitu melimpah melanglang buana. Bagiamana tidak, hampir disetiap daerah di kawasan di Pulau Lombok memiliki daya tarik tersendiri. Baik di dalam maupun di luar air. Tidak heran jika Pulau Lombok menjadi salah satu tujuan paling popular di Nusa Tenggara Barat ( NTB ). Jika disurvey, mulai dari wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, bahkan Lombok bagian selatan memiliki daya tarik objek wisata masing – masing. Contohnya perbukitan, pegunungan, spot air terjun, pantai – pantai yang mengelilingi pulau, hutan liar dengan ribuan kera, panorama indahnya pulau – pulau kecil seperti Gili Air, Gili Kedis, Gili Meno, Gili Terawangan, dan Gili kecil lainnya yang cocok menjadi tempat pelepas penat, pelipur hati, dan penyejuk pandangan baik bagi pribadi maupun keluarga. Masih banyak lagi objek wisata spektakuler yang harus dikunjungi terutama bagi Traveller yang hobi travelling atau berlibur.

Pulau yang dikenal dengan julukan Pulau Seribu Masjid ini juga sangatlah mudah untuk diakses. Bisa melalui jalur udara maupun jalur air. Untuk berkelilingpun, bisa menyewa sepeda motor atau mobil dari penyedia yang terpercaya. Nah, mudah sekali kan bagi teman - teman yang ingin menghabiskan waktu liburan di Pulau Lombok.

***

“ Iya sih mbak. Tapi apa iya, kita libur tanpa liburan? Gak asyik dong! Biasanya kan kita kalo hari libur, selalu nge-trip gitu. Sambung Trisna sambil menarik saus di meja dapur. Dahinya tampak kerut dengan ekspresi wajah yang tampak cemberut. Sementara aku, hanya sibuk menggoreng sisa kentang yang belum digoreng. Trisna memalingkan wajahnya dariku. Dahinya semakin berkerut. Alisnya tampak mulai naik dengan mata sedikit ditajamkan. Aku hanya melihatnya sejenak dan meminta Trisna untuk mengambil beberapa tisu makan yang ada didekatnya.

“ Mbaaaaakkkkkk, mbak ini ….”

“ Assalamualaikum, lagi pada ngapain?” Salam April, teman dekat Trisna sekaligus tetangga rumah. Kedatangan April mencairkan suasana. Trisna menjawab salam April dan menghampirinya. “ Eh, kita kan libur nih, bagaimana kalau kita pergi liburan? Yah, jangan yang jauh – jauh. Deket aja. Kampung kita kan punya objek wisata yang gak kalah keren dengan tempat yang lain.” Namun, Trisna masih belum tahu objek wisata yang dimaksud teman dekatnya itu. Dari jarak 10 meter, aku mendengar obrolan mereka dan mematikan kompor yang aku gunakan.

“ Air Terjun Timponan “ sahutku tegas sambil membawa kentang goreng dan saus sambal ke arah mereka. April mengiyakan dengan seksama bahwa itulah objek wisata yang dimaksud. Akhirnya Trisna mengangguk – anggukan kepalanya berkali – kali dibarengi dengan kata “ Oh, iya, iya, iya. Aku tahu. Tapi kan jauh banged!” sambungnya.

***

Air Terjun Timponan ini dapat ditemui di dusun Punikan, desa Batu Mekar, kecamatan Lingsar, kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ( NTB ). Punikan ialah salah satu kampung dengan adat istiadat yang masih melekat membudaya dengan mata pencaharian sebagian besar penduduknya ialah petani dan peternak. Letaknya sangat dekat dengan pegunungan, persawahan, dan perkebunan. Dikampung inilah aku dan keluargaku berasal. Kampung dengan udara yang masih segar dengan pasar yang masih sangat tradisional dibarengi dengan suara “ tuk tik tak tik tuk,”  sepatu kuda setiap paginya. Kampung yang biasa dikenal kaya akan hasil bumi ini menjadi tujuan favorit bagi mereka yang ingin mencari buah ataupun rempah. Tidak hanya itu, objek wisata air terjun timponan inilah yang menjadi tambahan daya tarik para pendaki dan wisatawan.

Untuk para pendaki, biasanya mereka melepas kendaraan di kampung, kemudian berjalan kaki menapaki dan menanjaki gundukan tanah yang tak rata ± 10 km. Jalan setapak yang sepanjang jalan ini, diiringi oleh pohon besar dan tanaman menjalar sebagai penanda batas perkebunan yang dimiliki oleh setiap warga. Untuk para wisatawan yang menggunakan motor, tentunya masih bisa. Karena akses ke Air Terjun Timponan ini juga tidak memungkiri pengendara untuk mengendarai kendaraannya. Walaupun jalan tersebut berupa tanah dan setapak, tetapi tentunya aman dan cukup untuk kendaraan roda dua berlalu lalang. Semakin majunya zaman, membuat akses jalur masuk ke air terjun ini semakin mudah. Sangat berbeda dengan ketika aku masih berada di Sekolah Dasar dulu ( tahun 90-an ). Yah, begitulah perubahan dunia.

***

“ Oke, aku setuju untuk pergi ke Air Terjun Timponan.” Sahutku meyakinkan Trisna dan April. Keesokan harinya, aku, Trisna, dan April beserta teman – teman yang lain mengadakan perjalanan ke Air Terjun Timponan. Kami memberanikan diri, karena kami tahu bahwa air terjun ini masih sangat asri dan jauh dari kerumunan. Ditambah pandemi, hanya beberapa orang dari daerah luar yang berdatangan. Lebih dominan warga sekitar. Kami mempersiapkan bekal masing – masing, mulai dari nasi, air mineral, dan makanan ringan lainnya.

Kami bertiga menunggu kedatangan teman – teman yang lain mulai pukul 07.00 WITA, karena perjalanan sudah kami rencanakan pada pukul 08.00 WITA.  “ Tik Tok Tik Tok,”  waktu berjalan dan berlalu. Akhirnya, jumlah kami bertambah menjadi 10 orang. Wah, seru banged dan terbayang akan sangat meng-asyik-an jika perjalanan mendaki beramai – ramai.

***

“ Oke, Lets, Go !!!” Ajakku kepada teman – teman. Kata yang keluar setelah kami membuat kesepakatan atas beberapa hal yang harus dipatuhi selama perjalanan. Mulai dari spot dimana kami harus istirahat sampai bagaimana menjaga sikap dan tutur kata sepanjang perjalanan hingga sampai di air terjun. Hal ini kami lakukan demi kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam perjalanan, banyak para Inak ( Ibu ) dan Amak ( Bapak ) yang kami temukan. Kami saling menyapa satu sama lain saat berpapasan atau menuju jalur bahkan tujuan yang sama. Ada yang berjalan kaki sambil memikul tumpukan kayu bakar, membawa bakul berisi hasil alam ( Buah dan rempah ) sampai kayu berukuran besar. Wah, sangat menyenangkan memang tinggal di pedesaan yang masih jauh dari kerumunan kota. Akhirnya, setapak demi setapak kami lewati. Gundukan demi gundukan kami jajaki. Spot demi spot kami singgahi sampai akhirnya tiba di spot terakhir.

Spot terakhir dari 5 spot ini adalah spot yang tepat berada dibawah bukit tempat air terjun berada. Di tempat ini biasanya para pendaki atau wisatawan berkumpul untuk mengecek keanggotaan masing – masing anggota. Para pedagang juga dapat ditemui di tempat ini. Mulai dari penjual nasi, makanan ringan ( snacks/meals ), sampai warung kopi ( warkop ).  Karenanya, tempat ini selalu ramai dipenuhi hingar bingar suara mereka. Mereka yang bersama keluarga, kerabat, kelompok, organisasi, bahkan pasangan muda mudi.

“ SELAMAT DATANG DI KAWASAN WISATA AIR TERJUN TIMPONAN. Yeay !!! Kita sudah sampai….” Teriak Trisna setelah membaca tulisan yang ada pada gapura. Yah, ada pemberitahuan  bertuliskan di gapura yang menandakan bahwa kami sudah sampai di tujuan.


“ Eitssss, belum sampai. Kita masih ada satu tantangan lagi. Istirahat dulu. Pulihkan tenaga. Setelah ini, kita akan menanjaki perbukitan yang di atas.” Kalimatku sambil menunjuk perbukitan yang akan di jajaki. Memang banyak perubahan yang terjadi. Dimana dulu masih penuh dengan semak – semak belukar, kini hanya rerumputan liar yang terinjak – injak oleh kaki – kaki para pecinta alam.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Kuambil tongkat panjang yang akan aku gunakan untuk membantu menanjak. Tidaklah tinggi dan terjang. Hanya saja dapat membuat nafas berbalapan dengan dekat jantung. Keringat di wajah mengalir menetesi dedaunan yang terinjak. Tapak kaki para pecinta alam mulai membekas di gundukan tanah. Setelah sampai setengah perjalanan, aku menoleh ke belakang. Luar biasa. Tampak seperti deretan semut yang berbaris rapi. Aku dan teman – teman semakin semangat, karena kami tahu bahwa lelah kami akan terbayarkan ketika sampai di lokasi.

Lima belas menit berlalu, kami pun sampai di penghujung tanjakan. Sudah mulai tampak kerumunan orang – orang yang sedang menikmati sejuknya pemandangan dan segarnya air terjun. Aku tak sabar pula untuk menikmati indahnya alam itu. Aku membuang tongkat yang menemani sepanjang tanjakan. Aku mulai turun perlahan dan blusukan di setapak rerumputan.  Perjalanan menuruni bukit memakan waktu setengah dari perjalanan mendaki. Semakin menurun terasa angin semakin sejuk. Udara terasa segar dan dingin. Percikan air dari air terjun mulai menyapa. Semakin kami percepat langkah dan mulai terlihat orang – orang yang menatap ke arah kami. Kami langsung mencari tempat yang nyaman untuk melepas penat. Tempat yang beralaskan daun sangatlah sempurna bagi kami.

 

   

Trisna, April, dan sebagian teman langsung berlari menuju air terjun melewati dan melompati bebatuan besar dan kecil yang tak beraturan. Mereka sangat menikmati pesona indahnya alam dan segarnya air terjun pegunungan yang masih sangat alami. Sementara aku, sibuk menyiapkan santapan dengan piring dari dedaunan pula. Simple but enjoying ( Sederhana tapi nikmat ). Itulah serunya. Tidak hanya kami, para penikmat pesona air terjun pun terlihat sibuk dengan aktifitas masing – masing. Mereka punya cara sendiri dalam menikmati terjunnya air, susunan bebatuan, hingga suara burung yang bernyanyi mengiringi pepohonan yang berdesir. Tidak jarang bagai mereka yang hobi swafoto/selfie untuk mengabadikan moment – moment seperti ini. Begitupun kami. Lepas santap, kami berburu foto.

“ Cekrek, Cekrek, Cekrek.” Begitu bunyi kamera yang tak henti – hentinya berbunyi sampai tak terasa matahari perlahan mulai tergelincir ke arah barat. Kami mempersiapkan diri untuk bergegas pulang pada pukul 16.00 WITA. Sebelum pulang, kami tak lupa diri. Menjaga kebersihan, kelestarian, dan keindahan alam tetaplah kami laksanakan. Kami beramai – ramai membersihkan lokasi sekitar air terjun hingga tak tampak lagi sampah yang berserakan. Ahirnya, saat pulang, jumlah kami bertambah lebih dari semula dikarenakan jumlah para pendaki yang lain. Sepanjang jalan kami bernyanyi bersahutan antara lagu satu dengan lainnya dengan kelompok lain. Tak sadar, kami sampai di persimpangan kampung. Tangan mulai melambai – lambai mengucapkan salam dan harapan untuk bertemu di kesempatan lain.

Senang sekali rasanya bisa berlibur dan menikmati indahnya alam pegunungan serta pesona air terjun di masa pandemic seperti ini. Aman dan jauh dari kerumunan, tapi sangat populer bagi kaula muda. Teman semakin banyak dan tentu pengalaman yang mengasyikkan bisa bebaur dan berbagi bersama alam.

PROFIL  PENULIS


Meike Widia Azmi, S,Pd. Berprofesi sebagai guru di SDN 1 Dasan Tereng, Lombok Barat, NTB. Pendidikan penulis : SDN 2 Batu Mekar ( 2005 ), SMPN 2 Lingsar ( 2008 ), SMAN 1 Lingsar ( 2011 ), S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar ( PGSD ) Universitas Terbuka Mataram ( 2019 ). Penulis berdomisili di jln. Taman Sari, Punikan Utara, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, NTB. Penulis berkontribusi dalam penulisan buku Bunga Rampai Feature Pendidikan Karakter Walau Digetar Sampai Terkapar, Tak Kan Hilang Jiwa – Jiwa Pembelajar, LPMP NTB, Kemendikbud 2019. Bunga Rampai Pembelajaran Berkarakter di Era Perubahan, APLN 2020. Jejak Literasi Milenial, Komunitas Pendidik Kreatif 2020. Pandemi Melejitkan Literasi, APLN 2020. Penulis dapat disapa melalui HP/WA 087701007776 dan email meikewidiaazmii@gmail.com

Komentar

  1. Cerita yang mantap, Bu. Menarik pembaca untuk ikut mengunjungi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Terima kasih banyak pak PP. Senang sekali mendengarnya. Sebenarnya cerita ini masuk ke salah satu antologi yang tyang ikuti. Tapi ini kali pertama tyang share. Masih malu-malu untuk dibaca teman. Sekali lagi, terima kasih banyak.

      Hapus
  2. Kereeen blog cerpennya Bu Guru. Virus kepseknya udah mulai menular kayaknya nih sama guru2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaaaa... iya pak Jojogawah. Tidak lain menulis juga karna dipaksa oleh beliau (kepsek). Saya tertarik dengan nama Jojogawah nike. Soalnya sama dengan tyang. Megah (Mepet gawah). Haaahaaa...

      Hapus
    2. Astaga, mamiq Jun niki. Ampure miq. Pak PP. Sepertinya cara tyang berbahasa ke pelinggih kurang sopan. Tyang kira bukan pelinggih. Hee...

      Hapus
  3. Keren Bu guru,,,,,,saya perlu belajar juga nih sama Bu guru,,,,,tugas dimana Bu guru,????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih keren pelinggih ibunda. Tyang sering memperhatikan chat pelinggih di grup ketika ada materi dan sesi tanya jawab. Ingin belajar banyak bagaimana bisa seperti pelinggih dan teman lainnya.

      Alhamdulillah sudah tugas di SDN 1 Dasan Tereng, narmada kurang lebih 8 tahun. Bagaimana dengan pelinggih ibunda?

      Hapus

Posting Komentar